
Jakarta – Jamu kembali mendapat tempat di tengah gaya hidup generasi muda. Di media sosial, minuman tradisional yang identik dengan rempah-rempah ini kerap muncul sebagai bagian dari rutinitas setelah bekerja, berolahraga, atau ketika ingin menikmati minuman yang terasa menenangkan.
Popularitas jamu bukan hanya soal tren. Beragam tanaman yang digunakan sebagai bahan racikan mengandung senyawa bioaktif yang telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional dan kini banyak diteliti dari sisi kesehatan.
Jenisnya pun sangat beragam, mulai dari jamu dengan rasa manis hingga racikan yang terkenal pahit. Dikutip dari berbagai sumber, berikut lima jenis jamu tradisional yang menarik untuk dikenali:
1. Beras kencur
Beras kencur memiliki cita rasa yang relatif ringan dibandingkan beberapa jenis jamu lainnya. Racikannya umumnya menggunakan beras, kencur, asam jawa, serta gula sebagai pemberi rasa.
Kencur mengandung sejumlah senyawa bioaktif yang tengah diteliti potensinya dalam membantu meredakan peradangan dan keluhan tertentu. Secara tradisional, beras kencur juga kerap dikonsumsi setelah melakukan aktivitas fisik karena dianggap memberikan sensasi segar dan membantu mengurangi rasa lelah.
Dalam praktiknya, manfaat jamu dapat berbeda pada setiap orang dan tetap bergantung pada bahan serta cara pembuatannya.
2. Brotowali
Brotowali dikenal luas sebagai jamu pahitan karena rasa alaminya yang sangat kuat. Tanaman ini secara tradisional digunakan dalam berbagai racikan herbal dan mengandung sejumlah senyawa seperti alkaloid serta glikosida.
Beberapa penelitian eksperimental telah mengeksplorasi aktivitas antimikroba dan antioksidan dari komponen brotowali. Namun, hasil penelitian tersebut tidak serta-merta berarti jamu brotowali dapat digunakan untuk mengobati infeksi atau penyakit tertentu.
Bagi yang ingin mengonsumsinya, rasa pahit brotowali menjadi salah satu ciri paling khas dari minuman tradisional ini.
3. Kunyit asam
Perpaduan kunyit dan asam jawa membuat jamu ini memiliki rasa asam, segar, sekaligus sedikit manis. Kunyit mengandung kurkumin, senyawa yang banyak diteliti karena aktivitas antioksidan dan antiinflamasinya.
Kunyit asam juga cukup populer di kalangan perempuan. Sejumlah penelitian mengeksplorasi potensi konsumsi kunyit terhadap keluhan nyeri menstruasi, meskipun hasil dan efektivitasnya dapat berbeda pada setiap individu.
Jamu ini dapat dinikmati dalam keadaan dingin maupun hangat. Agar lebih sehat, perhatikan jumlah gula yang ditambahkan dalam racikannya.
4. Gepyokan
Gepyokan merupakan jamu tradisional yang menggunakan campuran berbagai daun dan tanaman herbal. Bahan yang digunakan dapat berbeda-beda menurut daerah dan resep, tetapi beberapa racikan mencakup beluntas, katuk, daun jambu, simbukan, atau bahan herbal lainnya.
Pada resep tertentu, tambahan jahe, temulawak, kencur, dan gula aren juga digunakan untuk memperkaya rasa.
Secara tradisional, gepyokan dikenal sebagai minuman herbal yang dikonsumsi untuk membantu menjaga kebugaran. Beberapa racikan juga dikaitkan dengan penggunaan tanaman tertentu untuk mendukung produksi ASI, tetapi manfaat tersebut perlu dibedakan antara penggunaan tradisional dan bukti klinis.
5. Temulawak
Sekilas mirip dengan kunyit, temulawak sebenarnya memiliki bentuk rimpang dan karakter yang berbeda. Tanaman ini dikenal sebagai salah satu bahan utama dalam berbagai ramuan tradisional Indonesia.
Temulawak mengandung kurkuminoid, minyak atsiri, pati, protein, dan sejumlah mineral. Komponen tersebut membuatnya banyak diteliti untuk aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.
Dalam bentuk jamu, temulawak biasanya dipadukan dengan bahan lain seperti asam jawa, gula aren, jinten, atau pandan. Secara tradisional, racikan ini kerap dikonsumsi untuk membantu menjaga kenyamanan pencernaan dan kebugaran tubuh.
Jamu sebagai bagian dari gaya hidup
Kembalinya popularitas jamu di kalangan anak muda menunjukkan bahwa minuman tradisional masih memiliki tempat di tengah tren kesehatan modern. Selain menawarkan cita rasa khas rempah Nusantara, jamu juga menjadi cara untuk kembali mengenal bahan-bahan herbal yang telah digunakan secara turun-temurun.
Meski demikian, jamu sebaiknya diposisikan sebagai bagian dari pola hidup sehat dan bukan pengganti obat yang diresepkan dokter. Efeknya juga dapat berbeda tergantung bahan, takaran, kondisi tubuh, serta cara pengolahan.
Bagi yang ingin rutin mengonsumsi jamu, pilih produk yang higienis, perhatikan kadar gula, dan pastikan bahan yang digunakan aman untuk kondisi tubuh masing-masing.
