
Jakarta – Informasi mengenai diet semakin mudah ditemukan, terutama melalui media sosial. Sayangnya, tidak semua informasi tersebut memiliki dasar yang tepat. Sejumlah anggapan tentang makanan dan penurunan berat badan bahkan masih dipercaya meski faktanya tidak sesederhana itu.
Mulai dari keyakinan bahwa semua karbohidrat menyebabkan kegemukan hingga anggapan bahwa produk vegetarian pasti lebih sehat. Padahal, kualitas makanan, jumlah yang dikonsumsi, serta pola makan secara keseluruhan jauh lebih penting.
Dikutip dari BBC, Tai Ibitoye, ahli gizi terdaftar sekaligus dosen nutrisi dan diet, menjelaskan beberapa mitos diet yang sering ditemuinya. Berikut lima di antaranya.
1. Semua Karbohidrat Membuat Berat Badan Naik
Karbohidrat sering menjadi makanan pertama yang dihilangkan ketika seseorang mulai berdiet. Padahal, tubuh membutuhkan karbohidrat sebagai salah satu sumber energi utama.
Secara energi, satu gram karbohidrat menyediakan sekitar 4 kalori, sedangkan satu gram lemak menyediakan sekitar 9 kalori. Mengurangi karbohidrat memang dapat menyebabkan angka timbangan turun dengan cepat pada awal diet, tetapi perubahan tersebut tidak selalu berarti tubuh kehilangan lemak.
Diet yang menghilangkan kelompok makanan tertentu secara ekstrem juga cenderung sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Berat badan dapat kembali meningkat ketika pola makan lama diterapkan lagi.
Daripada menghindari karbohidrat sepenuhnya, pilih sumber yang lebih kaya nutrisi dan serat. Contohnya roti gandum utuh, pasta gandum, nasi merah, buah, sayuran, serta kentang yang dikonsumsi bersama kulitnya.
2. Gula dari Buah Sama Buruknya dengan Gula Tambahan
Buah sering dijauhi oleh orang yang sedang diet karena mengandung gula alami. Padahal, gula yang secara alami terdapat dalam buah utuh berbeda dengan gula tambahan yang ditambahkan ke makanan atau minuman.
Buah juga menyediakan serat, vitamin, mineral, dan berbagai senyawa tumbuhan yang bermanfaat. Karena itu, konsumsi buah utuh justru menjadi bagian dari pola makan sehat dan dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan.
Yang perlu lebih diperhatikan adalah konsumsi gula bebas atau gula tambahan dalam jumlah berlebihan.
Jus buah juga perlu dibedakan dari buah utuh. Ketika buah diolah menjadi jus, sebagian besar serat dapat hilang sehingga lebih mudah mengonsumsi gula dalam jumlah banyak tanpa mendapatkan rasa kenyang yang sama.
3. Tubuh Tidak Perlu Diet Detoks Khusus
Setelah makan berlebihan, sebagian orang memilih menjalani diet detoks menggunakan jus, makanan tertentu, atau suplemen dengan anggapan dapat membersihkan racun dari tubuh.
Padahal, tubuh sudah memiliki sistem yang bekerja untuk memproses dan membuang berbagai zat yang tidak diperlukan. Hati dan ginjal merupakan organ penting dalam proses tersebut.
Tidak ada kebutuhan umum untuk menjalani diet ekstrem hanya demi “membersihkan” tubuh. Beberapa program detoks bahkan membatasi jenis makanan secara berlebihan sehingga berisiko membuat asupan zat gizi menjadi tidak lengkap.
Alih-alih melakukan detoks singkat, kebiasaan yang lebih bermanfaat adalah mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak sayur dan buah, rutin bergerak, tidur cukup, serta menghindari kebiasaan yang dapat merugikan kesehatan.
4. Makanan Vegetarian Pasti Lebih Sehat
Label vegan atau vegetarian tidak otomatis membuat sebuah produk menjadi pilihan paling sehat.
Saat ini banyak makanan berbasis tumbuhan yang telah melalui berbagai proses pengolahan. Produk tersebut dapat mengandung cukup banyak gula, garam, lemak jenuh, atau kalori.
Contohnya, es krim berbahan nabati belum tentu lebih rendah gula dibandingkan es krim berbahan susu. Begitu juga dengan burger atau sosis berbahan kedelai yang tetap perlu diperiksa kandungan nutrisinya.
Pola makan vegetarian atau vegan memang dapat menjadi sehat jika direncanakan dengan baik. Namun, bukan berarti semua produk nabati boleh dikonsumsi tanpa memperhatikan komposisinya.
Membaca label nutrisi dan lebih sering memilih bahan pangan utuh menjadi langkah yang lebih tepat.
5. Produk Susu Harus Dihilangkan Saat Diet
Produk susu juga kerap dianggap tidak cocok untuk diet. Padahal, susu dan produk olahannya dapat menyumbang sejumlah nutrisi penting, seperti protein, kalsium, fosfor, kalium, yodium, dan vitamin B.
Beberapa produk fermentasi seperti yoghurt dan kefir juga mengandung mikroorganisme yang dapat mendukung kesehatan saluran pencernaan.
Kandungan laktosa dalam susu merupakan gula alami dan tidak sama dengan gula tambahan yang perlu dibatasi. Karena itu, keberadaan laktosa tidak otomatis membuat susu menjadi makanan yang tidak sehat.
Meski demikian, orang yang memiliki alergi atau intoleransi terhadap produk susu mungkin perlu menghindarinya atau memilih alternatif yang sesuai.
Bagi yang tidak mengonsumsi susu karena alasan tertentu, kebutuhan nutrisi tetap perlu diperhatikan. Pilihan minuman nabati yang telah diperkaya kalsium, yodium, dan vitamin tertentu dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan tersebut.
Jangan Mudah Percaya Tren Diet
Pada dasarnya, menjalani diet tidak berarti harus menghilangkan satu kelompok makanan atau mengikuti aturan makan yang ekstrem.
Karbohidrat tetap dibutuhkan, buah tidak otomatis menjadi musuh saat diet, dan produk vegetarian belum tentu selalu lebih sehat. Begitu pula dengan diet detoks yang tidak diperlukan oleh kebanyakan orang.
Daripada berfokus pada larangan makanan tertentu, lebih baik membangun pola makan yang beragam dan seimbang. Perhatikan kualitas makanan, ukuran porsi, serta kebutuhan nutrisi tubuh agar pola diet dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
