
Jakarta – Kebiasaan minum air dari botol plastik sekali pakai ternyata dapat meningkatkan paparan mikroplastik. Sebuah penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Universitas Concordia, Kanada, memperkirakan kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang menelan puluhan ribu partikel mikroplastik tambahan setiap tahun.
Mikroplastik merupakan potongan plastik berukuran kurang dari 5 milimeter yang dapat terbentuk ketika benda plastik mengalami kerusakan atau terurai menjadi bagian yang lebih kecil.
Dilansir dari NYPost, tim peneliti meninjau lebih dari 140 publikasi ilmiah untuk memperkirakan jumlah mikroplastik yang dapat masuk ke tubuh manusia melalui berbagai sumber.
Air Kemasan Bisa Tingkatkan Paparan Mikroplastik
Peneliti memperkirakan seseorang rata-rata dapat menelan sekitar 39.000 hingga 52.000 partikel mikroplastik setiap tahun dari berbagai sumber.
Namun, jumlah tersebut dapat meningkat pada orang yang rutin mengonsumsi air dari botol plastik sekali pakai. Dalam penelitian tersebut, kebiasaan minum air kemasan disebut dapat menambah paparan hingga sekitar 90.000 partikel per tahun dibandingkan konsumsi air keran.
Partikel plastik berukuran sangat kecil tersebut diduga dapat berasal dari material kemasan. Pelepasannya berpotensi meningkat ketika botol terkena panas, tertekan, atau mengalami kondisi tertentu selama penyimpanan dan penggunaan.
Sarah Sajedi, pakar manajemen lingkungan sekaligus penulis utama penelitian, menyebut penggunaan botol plastik mungkin tetap diperlukan dalam kondisi tertentu. Namun, menjadikannya sebagai kebiasaan harian dapat meningkatkan paparan dalam jangka panjang.
Apa yang Terjadi Setelah Mikroplastik Masuk Tubuh?
Mikroplastik yang tertelan dapat masuk ke dalam sistem pencernaan. Sejumlah penelitian juga menemukan partikel berukuran sangat kecil atau nanoplastik dapat berpindah ke jaringan tubuh.
Penelitian mengenai dampaknya masih berkembang. Sejumlah studi awal mengindikasikan kemungkinan adanya hubungan antara paparan mikroplastik dengan proses peradangan, stres oksidatif, perubahan fungsi sel, serta gangguan pada sistem biologis tertentu.
Partikel tersebut juga telah terdeteksi dalam berbagai jaringan dan organ manusia. Namun, keberadaan mikroplastik di dalam tubuh tidak otomatis membuktikan bahwa paparan tersebut menyebabkan penyakit tertentu.
Hubungan dengan penyakit seperti kanker, gangguan jantung, masalah kesuburan, maupun gangguan paru-paru masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui tingkat risikonya pada manusia.
Paparan Jangka Panjang Jadi Perhatian
Menurut Sajedi, salah satu persoalan yang perlu diperhatikan bukan hanya paparan dalam satu atau dua kali konsumsi, melainkan kemungkinan paparan yang terjadi secara terus-menerus.
Karena itu, ia mendorong adanya penelitian dan standar pengujian yang lebih baik untuk mengetahui kandungan mikroplastik pada produk air minum kemasan.
Edukasi masyarakat juga dinilai penting agar konsumen memahami bahwa penggunaan plastik sekali pakai bukan hanya berkaitan dengan masalah lingkungan, tetapi juga menjadi salah satu jalur potensial paparan mikroplastik.
Industri Air Kemasan Tanggapi Isu Mikroplastik
Asosiasi Air Kemasan Internasional menyatakan dukungannya terhadap penelitian lebih lanjut mengenai mikroplastik dan keamanan air minum kemasan.
Mereka juga menilai persoalan mikroplastik merupakan isu global yang tidak hanya berkaitan dengan industri air minum. Pengurangan pencemaran plastik membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari produsen hingga masyarakat.
Perlukah Berhenti Minum Air Kemasan?
Temuan mengenai mikroplastik tidak berarti bahwa setiap air kemasan pasti berbahaya atau harus dihindari sepenuhnya. Penelitian mengenai dampak kesehatan mikroplastik pada manusia masih terus berkembang.
Namun, jika tersedia pilihan yang aman, menggunakan air keran yang telah memenuhi standar keamanan atau wadah minum yang dapat digunakan berulang kali dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan pada botol plastik sekali pakai.
Yang juga penting adalah tidak meninggalkan botol plastik di tempat panas atau menggunakan kembali botol sekali pakai secara berulang-ulang jika memang tidak dirancang untuk penggunaan tersebut.
Pada akhirnya, isu mikroplastik menjadi pengingat bahwa kebiasaan sederhana sehari-hari dapat memengaruhi tingkat paparan terhadap partikel plastik, sekaligus menunjukkan pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai demi kesehatan dan lingkungan.
